
Perahu Pinisi termasuk alat transportasi laut tradisional masyarakat Bugis yang sudah terkenal sejak berabad-abad yang lalu. Menurut cerita di dalam naskah Lontar I Babad La Lagaligo, Perahu Pinisi sudah ada sekitar abad ke-14M. Menurut naskah tersebut, Perahu Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu. Bahan untuk membuat perahu tersebut diambil dari pohon welengreng (pohon dewata) yang terkenal sangat kokoh dan tidak mudah rapuh. Namun, sebelum pohon itu ditebang, terlebih dahulu dilaksanakan upacara khusus agar penunggunya bersedia pindah ke pohon lainnya. Hingga saat ini, Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai produsen Perahu Pinisi.

Dari perkawinan Batara Guru dengan beberapa pengiringnya dari langit serta pengiring We Nyilitomo dari peretiwi lahirlah beberapa putra mereka yang kelak menjadi penguasa di daerah-daerah Luwu sekaligus pembantu Batara Lattu’. Setelah Batara Lattu’ cukup dewasa, ia dikawinkan dengan We Datu Sengeng, anak La Urumpassi bersama We Padauleng ditompottikka. Sesudah itu Batara Guru bersama isteri kembali kelangit. Dari perkawinan keduanya lahirlah Sawerigading dan We Tenriabeng sebagai anak kembar emas yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Mengenai masa hidup Sawerigading terdapat berbagai versi di kalangan ahli sejarah. Menurut versi Towani-Tolotang di Sidenreng, Sawerigading lahir pada tahun 564 M. Jika versi ini dihadapkan dengan beberapa versi lain, maka data ini tidak terlalu jauh perbedaanya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dikemukakan tiga versi mengenai masa hidup Sawerigading, yaitu:
Versi Sulawesi Tenggara, abad V
Mengenai masa hidup Sawerigading terdapat berbagai versi di kalangan ahli sejarah. Menurut versi Towani-Tolotang di Sidenreng, Sawerigading lahir pada tahun 564 M. Jika versi ini dihadapkan dengan beberapa versi lain, maka data ini tidak terlalu jauh perbedaanya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dikemukakan tiga versi mengenai masa hidup Sawerigading, yaitu:
Versi Sulawesi Tenggara, abad V
Versi Gorontalo, 900 dikurangi 50 = 850
Versi Kelantan - Terengganu, tahun 710.
Versi Kelantan - Terengganu, tahun 710.
Sepertinya, versi Sulawesi Tenggara lebih dekat dengan versi yang dikemukakan oleh masyarakat Towani
-Tolotang.

Sejarah Kapal Pinisi , Banyak sekali catatan sejarah yang mengulas tentang kapal pinisi ini. Salah satunya adalah Serat Babad La Galigo yaitu merupakan salah satu dokumen sejarah terpanjang di dunia. Catatan ini menyebutkan bahwa kapal pinisi pertama dibuat oleh Sawerigading seorang putra mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok. Tujuan utamanya hendak merantau dan meminang seorang putri Tiongkok bernama We Cudai.
Sayangnya dalam perjalanan pulang ke Luwu, kapal ini harus berhadapan dengan badai dan pecah menjadi tiga bagian yang menyebar ke daerah Ara, Tanah Lemo serta Bira. Tiga daerah ini dipercaya sebagai cikal bakal kelahiran Kapal Pinisi karena di tiga tempat tersebut pecahan kapal Sawerigading dirakit kembali menjadi kapal baru yang saat ini disebut sebagai kapal pinisi.
Penamaan kapal pinisi ini masih menjadi misteri sampai sekarang, Sahabat. Ada yang menyebutkan bahwa pinisi adalah nama dari tiang kapal. Namun, ada yang menyebutkan bahwa nama pinisi adalah nama seorang pelaut yang merancang bentuk kapal pinisi.
Sayangnya dalam perjalanan pulang ke Luwu, kapal ini harus berhadapan dengan badai dan pecah menjadi tiga bagian yang menyebar ke daerah Ara, Tanah Lemo serta Bira. Tiga daerah ini dipercaya sebagai cikal bakal kelahiran Kapal Pinisi karena di tiga tempat tersebut pecahan kapal Sawerigading dirakit kembali menjadi kapal baru yang saat ini disebut sebagai kapal pinisi.
Penamaan kapal pinisi ini masih menjadi misteri sampai sekarang, Sahabat. Ada yang menyebutkan bahwa pinisi adalah nama dari tiang kapal. Namun, ada yang menyebutkan bahwa nama pinisi adalah nama seorang pelaut yang merancang bentuk kapal pinisi.

Tradisi dan Ritual Pembuatan Kapal Pinisi
Pembuatan kapal pinisi sangat memakan waktu, bahkan bisa mencapai berbulan-bulan atau bertahun-tahun tergantung dari ukuran kapal pinisi yang diinginkan. Hingga saat ini pembuatan kapal pinisi masih menggunakan cara tradisional dengan ritual Tradisonal.
Pertama, bahan kapal dicari pada hari baik dan dilakukan pencarian pohon Jati dan Pohon meranti yang kayunya digunakan sebagai bahan pembuatan kapal. Sebelum pohon ditebang, ada doa dan ritual pemotongan Binatang Kurban yang bertujuan untuk mengusir roh jahat dari pohon serta untuk keselamatan kapal. Kayu yang dipilih harus berkualitas tinggi, jadi nggak heran apabila biaya pembuatan kapal pinisi tersebut begitu mahal.
Setelah itu masih dilakukan peletakan pondasi yang harus dihadapkan ke arah timur laut. Proses pembuatan pinisi sebagian besar dilakukan secara manual.
Kapal Buatan Tangan Tanpa Perekat pasti tidak akan menyangka kalau kapal legendaris ini sebagian besar dibuat dengan tangan tanpa menggunakan mesin. Hampir semua proses produksi dari mulai menebang kayu, pemasangan lunas, hingga pembuatan kapal dilakukan secara Tradisonal
Selain itu, kapal ini pun dibuat tanpa bahan perekat, Kayu-kayu yang ada pada kapal tersusun dan hanya direkatkan dengan pasak kayu. jadi membutuhkan waktu yang sangat lama. Ketika sudah selesai, kapal pinisi biasanya digunakan untuk melaut, berdagang atau untuk mencari ikan.
Setelah itu masih dilakukan peletakan pondasi yang harus dihadapkan ke arah timur laut. Proses pembuatan pinisi sebagian besar dilakukan secara manual.
Kapal Buatan Tangan Tanpa Perekat pasti tidak akan menyangka kalau kapal legendaris ini sebagian besar dibuat dengan tangan tanpa menggunakan mesin. Hampir semua proses produksi dari mulai menebang kayu, pemasangan lunas, hingga pembuatan kapal dilakukan secara Tradisonal
Selain itu, kapal ini pun dibuat tanpa bahan perekat, Kayu-kayu yang ada pada kapal tersusun dan hanya direkatkan dengan pasak kayu. jadi membutuhkan waktu yang sangat lama. Ketika sudah selesai, kapal pinisi biasanya digunakan untuk melaut, berdagang atau untuk mencari ikan.

Namun, saat ini kapal pinisi digunakan sebagai kapal pesiar mewah untuk berlibur dan menjadi simbol kebanggan bagi pemiliknya. Ada hal unik dari Kapal Pinisi ini Sahabat, tujuh tiang yang dibuat pada kapal tersebut memiliki arti bahwa Indonesia mampu menaklukkan tujuh samudra besar yang ada di dunia. Dari kapal pinisi dapat membuktikan bahwa masyarakat Indonesia masih menjaga erat tradisi leluhur dan sebagai bukti bahwa Indonesia adalah bangsa Maritim .
No comments:
Post a Comment